Salah Satu Pintu Surga Sudah Ditutup

Pintu surga yang manakah yang sudah ditutup? Kenapa pintu itu ditutup?

 

Foto Ilustrasi.
Foto Ilustrasi.

 

PANGGILAN dari SURAU – Pada suatu hari Harits al-‘Uqla dia menangis tatkala mengantarkan jenazah ibundanya ke pemakaman. Beliau adalah seorang alim ulama yang seharusnya tabah mendapatkan musibah itu, yang seharusnya bersabar mengucapkan Innalillahi wa Inna Ilaihi Rooji’uun.

Orang-orang sekitar merasa tak nyaman dengan pemandangan ini karena terkesan sebagai bentuk ketidak ridlaan akan takdir Allah.

Mereka pun bertanya: “Apa yang kau tangisi? Bukankah semua orang akan mati dan kamu pun akan mati?”  Harits al-‘Uqla menjawab: “Rasulullah bersabda bahwa ibu kita adalah salah satu pintu menuju surga. Bagaimana aku tidak menangis sementara salah satu pintu surga sudah ditutup buat aku?

Jawaban ini adalah jawaban yang luar biasa yang membuat semua orang terdiam.  Demikian sebagaimana disampaikan Ustadz Dr Syafiq Riza Basalamah MA melalui status page facebooknya.

 

Celaka tidak Masuk Jannah

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Orangtua adalah pintu jannah yang paling tengah. Terserah kamu telantarkan ia apa kamu kehendak menjaganya.” (HR Tirmidzi)

Al-Qadhi berkata, “Maksud pintu jannah yang paling tengah adalah pintu yang paling bagus dan paling tinggi, Dengan kata lain sebaik-baik sarana yang bisa mengantarkan seseorang ke dalam jannah dan meraih derajat yang tinggi adalah dengan mentaati orangtua dan menjaganya.”

Bersyukurlah jika kita masih memiliki orangtua, karena di depan kita ada pintu surga yang lebar menganga. Terlebih bila orangtua berusia lanjut, dalam kondisi tidak berdaya atau bahkan pikun atau tak mampu merawat dirinya sendiri seperti bayi yang baru lahir.

Baca Juga :   Suamimu, Surgamu dan juga Nerakamu!

Rata-rata manusia begitu antusias dan bersuka cita tatkala memandikan bayinya dan merawatnya dengan wajah ceria. Berbeda dengan sikapnya terhadap orangtuanya yang kembali menjadi seperti bayi. Rasa malas, bosan mungkin kesal seringkali terungkap dalam kata dan perilaku.

Mengapa? Mungkin karena ia hanya berorientasi kepada dunia.  Si bayi bisa diharapkan nantinya produktif, sementara orangtua yang renta tidak diharapkan lagi kontribusinya. Andai saja kita berorientasi akhirat. Sungguh kita akan memperlakukan orangtua kita yang tua renta dengan baik, karena hasil yang akan kita panen lebih banyak dan lebih kekal.

Sungguh terlalu, orang yang mendapatkan orangtuanya berusia lanjut, tapi ia tidak masuk jannah, padahal kesempatan begitu mudah baginya. Rasulullah SAW bersabda :

Sungguh celaka…sungguh celaka… sungguh celaka…,” lalu dikatakan, “Siapakah itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yakni orang yang mendapatkan salah satu orangtuanya berusia lanjut namun ia tidak masuk jannah.” (HR Muslim)

Ia tidak masuk jannah karena tidak berbakti, tidak mentaati perintahnya, tidak berusaha membuat senang hatinya, tidak meringankan kesusahannya, tidak menjaga kata-katanya dan tidak merawatnya saat mereka tak mampu lagi hidup mandiri.

Saatnya kita berkaca diri, sudahkah kita layak disebut sebagai anak berbakti?  (pds)

Dari Berbagai Sumber (dengan editing):
Ustadz Dr Syafiq Riza Basalamah MA via mozaik.inilah.com
Arrisalah (Abu Umar.A) via republika.co.id

Link
http://mozaik.inilah.com/read/detail/2311355/salah-satu-pintu-surga-sudah-ditutup
http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/13/04/12/ml4zif-orang-tua-pintu-surga-yang-paling-tengah