Menyebut “Sayyidina” Pada Nabi Muhammad

 

Ada yang menyebut Nabi SAW didahului dengan ‘sayyidina’, ada yang tidak pakai ‘sayyidina’, bahkan ada yang tidak membolehkannya. So, bagaimana hukumnya atas itu?

 

 

muhammad 1_panggilan dari surau

 

PANGGILAN dari SURAU – Kata “Sayyidina” terdiri dari kata ; sayyid dan naa. Sayyid artinya; Tuan atau Tuhan. Naa,  artinya; kami. Jadi Sayyidina berarti; Tuan kami atau Tuhan kami.

Dalam budaya dialek bahasa  arab,  kata sayyidina mempunyai  arti ganda bisa  berarti ‘Tuan’ yaitu orang yang dihormati dan dijadikan panutan dan pimpinan di masyarakat atau juga sebagai majikan dari budak. Tapi juga kadang  diartikan sebagai ‘Tuhan’ yaitu sesuatu yang dikultuskan dan disembah sebagaimana ungkapan sebagian orang arab terhadap patung sesembahannya.

Dalam budaya bahasa kita, kata sayyid  hampir sama dengan kata ‘Pangeran’. Kata pangeran juga mempunyai arti ganda. Bisa  berarti ‘Tuan’. Seperti sebutan pada seorang tokoh nasional   ‘Pangeran Diponogoro’ atau putra mahkota kerajaan, ‘pangeran amir Abdallah ibgn Abdul Aziz. . Maksudnya adalah seorang yang bernama Diponogoro yang dihormati dan dijadikan panutan juga sebagai pemimpin  di kalangan masyarakat, begitu juga seorang putra mahkota

Tapi kata pangeran juga bisa  berarti ‘Tuhan’. Seperti sebagian orang  mengungkapkan dalam  doa; yaa Allah pangeran… aku mohon ampunanmu. Dalam bahasa jawa yang lain hampir sama dengan kata sayyid yaitu kata ‘Gusti’,  yang bisa berarti Tuan juga bisa  berarti ‘Tuhan.’

Dalam konteks penyebutan kata ‘Sayyidina’ sebelum Muhammad SAW sehingga biasa diucapkan “sayyidina Muhammad” ada dua riwayat  hadits dari Rasulullah yang seakan-akan bertentangan.

Yang pertama  riwayat  yang berbunyi; “ Aku sayid anak adam”  ( ana sayyidu waladi adam )..  sedangkan  riwayat yang  kedua  berbunyi; “ Jangan kalian men-sayyid-kan aku dalam shalawat “. (  laa tusawiduuni fissalaah ).

Dalam dua riwayat itu ada kata yang sama (sayyid) tapi artinya berbeda. Arti sayyid dalam  riwayat yang pertama  adalah pengakuan Rasulullah bahwa beliau sebagai ‘sayyid’ anak adam.  Dalam penegasan ini  para sahabat dan  ulama memahami  bahwa Nabi Mhammad sebagai ‘Tuan’ dari  anak cucu Nabi Adam bukan sebagai ‘Tuhan’.

Baca Juga :   UAP NERAKA, Ternyata Sudah Lama Berhembus ke Dunia

Adapun pengertian yang kedua, kata ‘sayyid’ difahami sebagai Tuhan. Sehingga nabi Muhammad melarang dirinya untuk dipertuhan, dikultuskan dan disembah. sebagaimana  orang arab pada waktu itu yang biasa  mempertuhan, mengkultuskan dan menyembah  raja  mereka.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, jika kata ‘sayyid’ diartikan ‘Tuhan’, maka itu tidak boleh disebut sebelum nama nabi Muhammad,  karena  bisa syirik kepada Allah SWT.

Tapi  jika kata ‘sayyid’ diartikan  sebagai Tuan,  pengayom, pemimpin dan orang yang dijadikan panutan, maka para ulama tidak melarangnya bahkan imam Syafi’I dan Hanafi mengatakan sunnah hukumnya kata sayyidina diucapkan sebelum menyebut nama nabi Muhammad dalam shalawat Ibrahimiah. Karena  riwayat “laa tusawwidunii” itu hadits palsu.

“ Al-Hanafiah dan As-Syafi’iyah berkata: disunnahkan menyebut sayyid ( As-siyadah) terhadap nabi Muhammad dalam shalawat Ibrahimiah, karena menambah informasi tentang kenyataan itu substansi  kesopanan dan itu lebih utama dari meninggalkannya. Adapun riweayat ‘laa tasuwwiduuni fis-sholah’ itu bohong dan palsu”.  ( DR. Wahbah Az-Zuhaily. Al-fiqh al-islamy wa adillatuh. 1/ 719)

 

Nabi Muhammad adalah utusan Allah SWT dan paling utamanya makhluk Allah SWT, kita tidak sopan kalau menyebut nama nabi Muhammad dengan ‘polos’ seperti kita memanggil teman kita sendiri. Maka sudah seharusnya kita ketika memanggil nama yang mulia Rasulullah SAW kita awali dengan sebutan penghormatan bukan pengkultusan dan sesembahan.

 

Sangat pantas kalau kita menyebut nama Rasulullah dengan sebuitan “ Sayyidina wa habibina wa syafi’ina Muhammad SAW”. (tuan kami, kekasih kami, dan pemberi syafaat kami Muhammad SAW).

Semoga kita diakui umat nabi Muhammad yang dikasihi dan  mendapat syafaat al-udzma di hari akhirat  nanti. Amiin yaa mujibassailin.  (pds)

 

sumber jawabanislam.com