Sabtu , 21 April 2018

MENDAPATKAN HAJI MABRUR, Meski Tukang Sol Sepatu ini tidak Berhaji

Foto Ilustrasi. zarrarkhan
Foto Ilustrasi. zarrarkhan


PANGGILAN dari SURAU
– Ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al Hanzhali al Marwazi ulama terkenal di Makkah yang menceritakan riwayat ini.

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka :

“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satu pun.”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.  “Apa?” ia menangis dalam mimpinya. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni . Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”

“Kok bisa..?”
“Itu Kehendak Allah.”
“Siapa orang tersebut?”
Sa’id bin Muhafah tukang sol sepatu di Kota Damsyiq…”

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun.  Sepulang haji, ia tidak langsung pulang ke rumah, tapi langsung menuju Kota Damsyiq, Syiria (sekarang Damaskus, Suriah). Sesampai di sana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya.

Hampir semua tukang sol sepatu di sana dia tanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah. “Ada, di tepi kota,” jawab salah seorang tukang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya.  Sesampai di sana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh.

“Benarkah Anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu
“Betul, Anda siapa Syekh?”
“Aku Abdullah bin Mubarak.”
Said pun tercengang, “Syekh adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”

Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaannya, akhirnya ia pun menceritakan perihal mimpinya. “Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah Anda perbuat, sehingga Anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”

“Wah saya sendiri tidak tahu…, ” jawabnya keheranan.
“Kalau begitu, coba ceritakan bagaimana kehidupan dan pengalaman Anda… ” tanya Ulama itu.

Istri Ngidam Masakan Tetangga

Maka Sa’id bin Muhafah merenung, dan akhirnya bercerita, “Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar: ‘Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarikalaka‘. Ya Allah, aku datang karena panggilanMu. Tiada sekutu bagiMu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyaanMu dan kekuasaanMu. Tiada sekutu bagiMu.

Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis, ‘Ya Allah… Aku rindu Mekkah. Ya Allah aku rindu melihat Kabah. Izinkanlah aku datang… Izinkan aku datang ya Allah…’  Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan… Akhirnya pada tahun ini, Alhamdulillah, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji. Saya sudah siap berhaji!”

“Tapi anda batal berangkat haji”, tanya Ulama
“Benar,” jawab Sa’id
“Apa yang terjadi?” penasaran Ulama bertanya.

Sa’id menceritakan, “Istri saya hamil dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat. Ia berkata ‘Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?’  Aku mengiyakan pertanyaannya karena aku pun mencium bau yang sama.

Lantas ia berkata: ‘Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku’. Maka saya pun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh. Di situ ada seorang janda dengan enam anaknya yang masih kecil-kecil. Saya bilang padanya bahwa istri saya sedang ngidam dan ingin masakan yang ia masak walaupun sedikit saja.

Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya. Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan: ‘Maaf, tidak boleh tuan’. Saya katakan padanya dijual berapapun akan saya beli. Namun janda itu menjawab: ‘Makanan itu tidak dijual, tuan’, katanya sambil berlinang mata. Karena heran melihat ia menangis, akhirnya saya tanya kenapa. Sambil menangis, janda itu berkata, ‘Daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan’, katanya.

Dalam hati saya bertanya bagaimana mungkin ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim… Karena itu saya mendesaknya lagi ‘Kenapa?’, Ia menjawab: ‘Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Di rumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak. Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya, kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram’.

Mendengar pengakuan ibu itu, saya pun tak kuasa untuk menangis, lalu saya segera pulang. Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, dia pun menangis. Akhirnya kami memasak makanan semampu kami dan mendatangi rumah janda itu untuk diberikan padanya, sementara uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham, semuanya saya berikan pada mereka agar bisa mereka gunakan untuk usaha, agar tidak kelaparan lagi.