Kamis , 19 April 2018

Masya Allah, Wanita Petugas Laundry ini Masuk Islam Gara-gara Celana Dalam

Hidayah Allah kepada setiap hambaNya memang sangat beragam, bahkan bisa dibilang unik. Seperti kisah seorang wanita petugas laundry ini yang masuk islam karena perbedaan antara celana dalam muslim dengan non muslim.

 

Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi

 

PANGGILAN dari SURAU –  Hidayah memang bisa menghampiri tiap orang dengan cara apa saja. Seperti sebuah fakta yang dikisahkan oleh Doktor Sholeh, pengajar di sebuah perguruan tinggi Islam di Arab Saudi, saat ditugaskan ke Inggris.

Dikisahkan, ada seorang perempuan tua yang biasa mencuci pakaian para mahasiswa Inggris termasuk pakaian dalam mereka. Tidak ada sisi menarik pada wanita ini, tua renta, pegawai rendahan, dan hidup sendirian. Setiap kali bertemu, dia selalu membawa kantong plastik berukuran besar yang terisi penuh dengan pakaian kotor.

Untuk pekerjaan kasar seperti ini, penghuni rumah jompo ini terbilang cekatan di usia yang sudah terbilang uzur. Di Inggris, masyarakat yang memiliki anggota keluarga lansia biasanya cenderung memasukkan mereka ke panti jompo. Dan tentu saja keadaan miris ini harus diterima kebanyakan para orangtua dengan besar hati agar tidak membebani anak mereka.

Nah, bagi wanita tua yang biasa dipanggil Auntie atau Bibi ini, profesinya sebagai petugas laundry justru membuatnya lebih dekat dengan sepak terjang dan liku-liku penghuni asrama yang rata-rata adalah mahasiswa dari luar Inggris.

Sang Bibi paham betul kebiasaan para mahasiswa yang tinggal di asrama ini selain belajar sehari-hari, adalah pergi clubbing sekadar “having fun”. Banyak asrama memiliki bar, cafe, ruang duduk untuk menonton televisi, ruang musik dan fasilitas olahraga sendiri.

Dan salah satu sisi negatif dalam pergaulan anak-anak muda Inggris adalah bila mereka sudah dekat botol miras, biasanya mereka akan mabuk. Dan dapat dibayangkan kekacauan yang terjadi. Muntah di sembarang tempat, kencing dalam celana dan sebagainya.

Saat para penghuni asrama masih dibuai mimpi karena kelelahan habis clubbing semalaman suntuk. Tinggalah sang Bibi memunguti pakaian kotor itu setiap hari. Dan terkadang harus diangkut dari kamar, jauh sebelum mereka bangun dari tidur.

Kemudian disortir dengan teliti satu persatu berdasarkan jenis bahan, ukuran, warna dan yang lebih spesifik lagi dipisahkankannya pakaian dalam dari yang lain.

Waktu terus berjalan, sampailah suatu saat asramanya kedatangan penghuni baru yaitu beberapa mahasiswa muslim dari Timur Tengah yang mendapat tugas belajar dari negaranya.

Tampaknya si Bibi ini betul-betul perhatian dengan apa yang dicucinya. Sampai-sampai dia tahu ini pakaian si A, ini si B dan seterusya. Tidak terkecuali dengan pakaian kotor milik mahasiswa dari Timur Tengah tadi.

Namun saat dilakukan sortir pakaian dalam, si Bibi merasa ada sesuatu yang tidak biasa, karena dari semua pakaian yang dicucinya, hanya pakaian muslim Arab saja yang terlihat tidak kotor, tidak berbau, tidak kumuh dan tidak banyak noda di pakaiannya.

Baca Juga :   DULU MAU GABUNG TENTARA AS BUAT PERANGI ISLAM, Tapi Hidayah Lebih Dulu Singgah

Kejadian langka ini semakin mendorong rasa penasaran si Bibi. Lagi-lagi pencuci pakaian di asrama ini selalu merasa aneh saat mencuci celana dalam mereka. Berbeda dengan yang lain, kedua pakaian dalam mereka selalu tak berbau. Maka masih dalam keadaan penasaran, si Bibi memutuskan bertanya langsung dengan ‘pemilik celana dalam’ itu.
Dengan keberanian tinggi, wanita pencuci pakaian itu pun menanyakan perihal bau celana dalam para mahasiswa muslim tersebut.

Salah seorang mahasiswa muslim kemudian menjawab, “Kami selalu istinja setiap kali kencing.” sembari menjelaskan tentang apa itu istinja.

Wanita bertanya penasaran, “Apakah itu diajarkan dalam agamamu?”

“Ya” jawab mereka

Jawaban dan penjelasan mahasiswa muslim itu pun masih memberi tanda tanya dalam benak sang petugas laundry. Sehingga ia kemudian menemui salah seorang dosen beragama islam yang berasal dari Saudi dan mengajar di Universitas tersebut.

 

Kepada dosen bernama Doktor Shaleh, wanita itu menceritakan pengalamannya selama bertahun-tahun menjadi seorang petugas pencuci pakaian. Setiap hari ia harus berhadapan dengan bau busuknya pakaian dan juga celana dalam para mahasiswa. Namun celana dalam mahasiswa muslim yang baru datang tersebut justru tidak terlihat noda ataupun bau yang sebusuk celana dalam non muslim.

Maka setelah mendengar penjelasan itu, Doktor Sholeih menjelaskan bahwa dalam islam diajarkan yang namanya konsep kebersihan atau thaharah.

“Agama kami mengajarkan bersuci setiap selesai buang air kecil maupun buang air besar. Tidak seperti mereka yang tidak perhatian dalam masalah seperti ini,” ucap sang dosen.

Apa yang dikatakan oleh dosen tersebut membut wanita petugas laundry mulai terpesona dengan islam karena mengajarkan tentang kebersihan. Ia pun berpikir bahwa ajaran islam sangat perhatian dalam berbagai hal, bahkan yang sangat remeh dan kecil sekalipun. Baginya agama seperti itu merupakan agama yang luar biasa dan memiliki aturan yang benar-benar dibutuhkan oleh manusia.

Semenjak itu, wanita petugas laundry pun mulai membaca berbagai kajian islam dan tak hanya tentang thaharah saja. Tak lama kemudian, ia memutuskan untuk mengucapkan kalimat syahadat sebagai ikrar menjadi seorang muslim.

Sontak pemberitaan tentang masuk islamnya seorang wanita petugas laundry membuat geger para mahasiswa di asrama. Terlebih lagi hidayah tersebut datang dari bau celana dalam. Sungguh hidayah yang benar-benar unik dan hanya bisa terasa oleh mereka yang benar-benar ditunjukkan jalan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Semoga kisah nyata tersebut semakin menguatkan keyakinan kita untuk mengamalkan setiap ajaran agama, terutama yang berkaitan dengan kebersihan. Karena sesungguhnya awal dari segala ibadah diawali dengan kebersihan.
Wallahu A’lam bishshawab. (pds)


Sumber: Annida Online dari Majalah Al-Qawwam, Riyadh
via KabarMakkah.com,  mozaikislamterkini.com & dream.co.id