Kamis , 19 April 2018

KETIKA IMAM HAMBALI MENGETUK PINTU RUMAH MURIDNYA

thumbs_b_c_557bef989374690d0db7dd26f230c451HARUN IBNU ‘ABDILLAH, seorang ulama ahli hadits yang juga pedagang kain di kota Baghdad bercerita:

Suatu hari, Saat malam beranjak larut, pintu rumahku di ketuk.
“Siapa..?” tanyaku.
“Ahmad,” jawab orang di luar pelan.
“Ahmad yang mana..?” tanyaku makin penasaran.
“Ibn Hanbal,” jawabnya pelan.
Subhanallah, itu guruku..!, kataku dalam hati.

Maka kubuka pintu. Kupersilakan beliau masuk, dan kulihat beliau berjalan berjingkat, seolah tak ingin terdengar langkahnya.
Saat kupersilakan untuk duduk, beliau menjaga agar kursinya tidak berderit mengeluarkan suara.

“Wahai guru, ada urusan yang penting apakah sehingga dirimu mendatangiku selarut ini..?” “Maafkan aku ya Harun… Aku tahu biasanya engkau masih terjaga meneliti hadits selarut ini, maka aku pun memberanikan diri mendatangimu. Ada hal yang mengusik hatiku sedari siang tadi.”
Aku terkejut. Sejak siang..
“Apakah itu wahai guru?” “Mmmm begini…”
Suara Guruku Ahmad ibn Hanbal sangat pelan, nyaris berbisik.

“Siang tadi aku lewat di samping majelismu, saat engkau sedang mengajar murid-muridmu.
Aku saksikan murid-muridmu terkena terik sinar mentari saat mencatat hadits-hadits, sementara dirimu bernaung di bawah bayangan pepohonan. Lain kali, janganlah seperti itu wahai Harun.
Duduklah dalam keadaan yang sama sebagaimana murid²mu duduk..!” Aku tercekat, tak mampu berkata.

Baca Juga :   Kisah Imam Hambali yang Rela Serahkan Hartanya kepada Wanita Miskin ini

Maka beliau berbisik lagi, mohon pamit, melangkah berjingkat & menutup pintu hati².

Masya Allah,
Inilah guruku Ahmad ibn Hanbal, begitu mulianya akhlak beliau dalam menyampaikan nasehat.
Beliau bisa saja meluruskanku langsung saat melintasi majelisku. Tapi itu tidak dilakukannya demi menjaga wibawaku di hadapan murid²ku. Beliau jg rela menunggu hingga larut malam agar tidak ada orang lain yg mengetahui kesalahanku. Bahkan beliau berbicara dgn suara yg sangat pelan & berjingkat saat berjalan, agar tak ada anggota keluargaku yang terjaga.

Lagi² demi menjaga wibawaku sebagai imam & teladan bagi keluargaku.

Teringat perkataan Imam Asy Syafi’i: “Nasehati aku saat sendiri, jangan di saat ramai dan banyak saksi. Sebab nasehat di tengah khalayak, terasa hinaan yg membuat hatiku pedih dan koyak,  maka maafkan jika hatiku berontak.”

____________________________
kiriman #cahpondok, via kalam al kibar