Jumat , 20 April 2018

Innalillah, Mantan Imam Besar Masjid Istiqlal, Ali Mustafa Ya’qub Wafat

KH Ali Mustafa Yaqub - Foto Detik.com

Innalilahi wa inna ilaihi rajiun. Indonesia kembali kehilangan putra terbaiknya. Sekitar pukul 06.00 pagi (28/4/2016) mantan imam besar Masjid Istiqlal, Prof Dr KH Ali Mustafa Yaqub wafat. Kiai kharismatik ahli hadits ini menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 64 tahun di RS Hermina, Ciputat, Jakarta.

Kabar meninggalnya Kiai Ali Mustafa sudah menyebar beberapa menit setelah almarhum dikabarkan meninggal. “Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah guru kita Prof KH Ali Mustafa Yaqub pukul 06.00 WIB di Rumah Sakit Hermina, Semoga amal baik beliau diterima di sisi Allah SWT dan diampuni dosa-dosanya.”

Demikian kabar viral dari medsos yang disampaikan oleh Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam.

KH Ali Mustafa lahir di Kemiri, Batang 02 Maret 1952. KH Ali Mustafa juga merupakan mantan Wakil Ketua Fatwa MUI.

“Dia juga lebih dikenal sebagai salah satu ulama Indonesia ahli hadis yang aktif mendakwahkan Islam moderat hingga ke mancanegara,” kata Asrorun.

belasungkawa terus mengalir untuk almarhum. Salah satunya dari Wakil Predisen Jusuf Kalla (JK) melalui akun twitternya.

“Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Duka cita mendalam atas wafatnya KH Ali Mustafa Yaqub (Imam Besar Masjid Istiqlal).Semoga Husnul Khotimah,” kata JK melalui akun twitternya @Pak-JK.

“Innalillahi w.r wafat Imam Besar Masjid Istiqlal KH Ali Mustafa Yaqub, Kamis (29/4) Insya Allah KhusnulKhotimah, ucapan yang disampaikan oleh aktivis Fadjroel Ramhan untuk KH Ali Mustafa Yaqub.

Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siroj juga memposting ucapan duka cita melalui akun twitternya. “Innalillahi wa inna ilayhi rajiun. Telah berpulang KH Ali Mustafa Yaqub, Semoga Allah Swt menerima segala amal baiknya, & mengampuni dosanya,” tulisnya.

Mantan Imam Besar Masjid Istiqlal ini adalah salah satu pakar ilmu hadis terkemuka yang pernah dimiliki negeri ini. Ma’had Darussunah, Cirendeu, Ciputat adalah salah satu saksi kecemerlangan dan kontribusi besar beliau dalam memperkenalkan model pendidikan, pengkajian dan penelitian ulumul-hadis bagi umat Islam di Nusantara.

Semasa hidup, beliau dikenal sebagai tokoh moderat ini secara terbuka menentang organisasi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Yang ia sebut, ISIS tidak lahir dari rahim umat Islam.

Baca Juga :   Terlalu Megah dan Banyak Dipuji, SUNAN MURIA BAKAR SENDIRI MESJID YANG DIA BANGUN

SEKILAS TENTANG ALI MUSTAFA YAQUB

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA (lahir di Batang, Jawa Tengah, 2 Maret 1952; umur 64 tahun) adalah seorang Imam Besar Masjid Istiqlal. Cita-citanya untuk belajar di sekolah umum tidak terlaksana, karena setelah tamat SMP ia harus mengikuti arahan orangtuanya, belajar di Pesantren. Maka dengan diantar ayahnya, pada tahun 1966 ia mulai nyantri di Pondok Seblak Jombang sampai tingkat Tsanawiyah 1969.

Kemudian beliau nyantri lagi di Pesantren Tebuireng Jombang yang lokasinya hanya beberapa ratus meter saja dari Pondok Seblak. Di samping belajar formal sampai Fakultas Syariah Universitas Hasyim Asy’ari, di Pesantren ini ia menekuni kitab-kitab kuning di bawah asuhan para kiai sepuh, antara lain al-Marhum KH. Idris Kamali, al-Marhum KH. Adlan Ali, al-Marhum KH. Shobari dan al-Musnid KH. Syansuri Badawi. Di Pesantren ini ia mengajar Bahasa Arab, sampai awal 1976.

Tahun 1976 ia menuntut ilmu lagi di Fakultas Syariah Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Saudi Arabia, sampai tamat dengan mendapatkan ijazah license, 1980. Kemudian masih di kota yang sama ia melanjutkan lagi di Universitas King Saud, Jurusan Tafsir dan Hadis, sampai tamat dengan memperoleh ijazah Master, 1985.

Tahun itu juga ia pulang ke tanah air dan kini mengajar di Institut Ilmu al-Quran (IIQ), Institut Studi Ilmu al-Quran (ISIQ/PTIQ), Pengajian Tinggi Islam Masjid Istiqlal, Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STIDA) al-Hamidiyah, dan IAIN Syarif Hidayatullah, Tahun 1989, bersama keluarganya ia mendirikan Pesantren “Darus-Salam” di desa kelahirannya.

Mantan Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Riyadh yang aktif menulis ini, kini juga menjadi Sekjen Pimpinan Pusat Ittihadul Muaballighin, Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat, Ketua STIDA al-Hamidiyah Jakarta, dan sejak Ramadhan 1415 H/Februari 1995 ia diamanati untuk menjadi Pengasuh/Pelaksana Harian Pesantren al-Hamidiyah Depok, setelah pendirinya KH. Achmad Sjaichu wafat 4 Januari 1995. Terakhir ia didaulat oleh kawan-kawannya untuk menjadi Ketua Lembaga Pengkajian Hadis Indonesia (LepHi). (pds)

sumber: timesindonesia, detikcom, tasawufunderground