Kamis , 19 April 2018

Inilah Hukum Menghidupkan MALAM NISFU SYA’BAN (Bag 1)

nisfu syaban 1_panggilan dari surau

Berikut adalah tulisan lengkap tentang keutamaan Malam Nisfu Sya’ban yang ditulis oleh Alhabib Ahmad bin Novel bin Salim Jindan. Dimuat dalam dua tulisan bersambung.

 

PANGGILAN dari SURAU – Bulan sya’ban adalah bulan yang agung dan mulia. Bulan yang dikhususkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa aalihi wa shohbihi wasallam dengan berpuasa dan beribadah.

Tentang Hadits Shahih, Hasan, Dhaif

Sebelum kita membahas lebih dalam tentang malam nisfu sya’ban yang agung, ada beberapa poin yang perlu diketahui, diantaranya adalah bahwa hadits shahih dan hadits hasan adalah hadits yang kuat dan dapat dijadikan sebagai pondasi hukum agama. Adapun hadits dhaif tidaklah dapat dijadikan sebagai pondasi hukum namun para ahli hadits menyatakan bahwa hadits dhaif boleh dijadikan pedoman dalam menjalankan suatu amal yang berpahala.

Oleh ahli hadits diistilahkan dengan istilah Fadhoil A’mal, yakni hadits yang menyatakan tentang kemulian suatu amal ibadah tertentu dengan pahala tertentu. Ahli hadits menyatakan bahwa bolehnya menjadikan hadits dhaif sebagai pedoman dalam Fadhoil A’mal dengan beberapa syarat, di antaranya adalah:

  1. Status kedhaifannya tidak sangat parah.
  2. Jenis amal ibadah yang dianjurkan dalam hadits dhaif tersebut adalah jenis yang direstui dalam hadits yang shahih atau hasan.
  3. Mengamalkan hadits dhaif dalam Fadhoil A’mal tersebut dengan tanpa beriti’qad bahwa perkara tersebut adalah bagian dari sunnah nabi. Namun dengan tujuan ihtiath (berhati-hati) agar perkara yang berkemungkinan sebagai bagian dari agama tidak terbuang.

Di antara poin yang perlu diketahui juga adalah bahwa hadits yang lemah dapat naik statusnya dengan dukungan keberadaan hadits-hadits lainnya. Contohnya adalah jika suatu amal ibadah tertentu dengan pahala tertentu disebutkan oleh suatu hadits yang dhaif, dan kemudian terdapat beberapa hadits-hadits dhaif yang lain yang menyebutkan tentang amal ibadah yang sama, maka hadits-hadits dhaif tersebut saling menguatkan dan mendukung satu sama lain hingga mengangkat statusnya yang dhaif menjadi status hasan li ghoirihi (hadist hasan karena mendapat dukungan).

Demikian halnya dengan hadits hasan apabila terdapat hadits-hadits pendukung yang mendukungnya maka statusnya terangkat dari hadits hasan menjadi shahih li ghoirihi (hadits shahih karena mendapat dukungan).

Kedua poin penting ini adalah sebagian kecil dari ilmu Mushthalah Al Hadits (ilmu penelitian keabsahan hadits) dan masih banyak lagi poin-poin penting dalam meneliti suatu hadits. Hal ini perlu dinyatakan dengan tegas sehingga orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan yang luas tentang ilmu hadist tidak lancang menyatakan pengingkarannya terhadap suatu hadits, suatu amal ibadah dan suatu hukum agama yang dinyatakan oleh para ulama yang ahli.

Karena di zaman ini banyak orang yang dengan lancang mengatakan dengan gaya yang meremehkan “itu adalah hadits dhaif“, seakan hadits dhaif sama sekali tidak punya tempat dalam agama islam, seakan hadits dhaif hanyalah salah satu sampah yang harus dibuang dan dibakar. Na’udzu billah. Kami berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala dari kelancangan terhadap syariat Allah.

 

Hati-Hati dalam Meriwayatkan

Para ulama ahli hadits meriwayatkan hadits-hadits dhaif dan membuat aturan, syarat dan ketentuan yang ketat terhadapnya tiada lain karena kehati-hatian mereka yang amat sangat besar terhadap hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shohbihi wasallam.

Sebagaimana mereka tidak berani menyatakan suatu kepastian yang bulat bahwa hadits dhaif sebagai hadits yang sangat pasti keabsahannya, mereka juga tidak berani menyatakan suatu kepastian bulat bahwa hadits dhaif sebagai hadits yang palsu.

Mereka khawatir jika mereka menyatakan bahwa hadits dhaif tersebut adalah pasti keabsahannya namun ternyata tidak demikian dan sebaliknya mereka juga khawatir jika mereka menyatakan bahwa hadits dhaif sebagai hadits palsu namun ternyata tidak demikian.

Karena itulah mereka meriwayatkan hadits-hadits dhaif agar tidak membuang apa yang berkemungkinan sebagai bagian dari agama Allah, dan mereka membuat aturan, syarat dan ketentuan yang ketat terhadapnya agar membentengi agama Allah dari apa yang kemungkinan bukan sebagai bagian dari agama Allah.

Riwayat Malam Nisfu Sya’ban

Malam nisfu sya’ban adalah malam yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala serta malam yang penuh dengan keberkahan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Banyak diriwayatkan dari hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wasallam yang menyebutkan tentang keistimewaan dan kemuliaan malam nisfu sya’ban.

Baca Juga :   Ada Apa di MALAM NISFU SYA'BAN ?

Beberapa yang diriwayatkan adalah hadits yang berstatus shahih, hasan, dha’if, sangat lemah, dan palsu. Kita tidak akan menggunakan hadits yang palsu karena hadits palsu tidak dapat dijadikan sebagai hujjah, bahkan tidak pantas disebut sebagai hadits. Terdapat hadits-hadits yang shahih dan hasan sebagaimana juga terdapat hadits-hadits yang dha’if.

Al Muhaddits Al Imam As-Sayyid Abdullah bin Muhammad Al-Ghumari (seorang ahli hadits besar di Maghrib), beliau di dalam kitabnya menyebutkan sekitar lebih dari 10 hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wasallam yang meriwayatkan tentang kemuliaan malam nisfu sya’ban secara khusus. Memakmurkan malam nisfu sa’ban adalah perkara yang tidak dilarang oleh agama, sebab malam tersebut adalah malam yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala serta penuh dengan keberkahan-Nya.

Dahulu para ulama di Negeri Syam memakmuran malam nisfu sya’ban, baik secara sendiri maupun berkelompok di masjid. Di antara ulama yang berpendapat dan ikut memakmurkan malam nisfu sya’ban di masjid adalah seorang ulama besar di Negeri Syam, yaitu Khalid ibnu Ma’dan, Lukman bin Amir, serta ulama-ulama besar lainnya.

Diriwayatkan bahwa mereka pada malam nisfu sya’ban memakai pakaian terbagus, wewangian terharum, dan mereka memakmurkan malam nisfu sya’ban di masjid dengan beribadah semalam suntuk kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Bukan Perkara Bid’ah

Al Imam Ishak Ibnu Rohaweih (seorang ahli hadits besar dan guru dari Al Imam Al Bukhari) menyatakan bahwa memakmurkan malam nisfu sya’ban di masjid dengan beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah bukanlah perkara yang bid’ah.

Pernyataan Al Imam Ishak ibnu Rohaweih tersebut diriwayatkan oleh Harb Al Karmani dalam Al Masail. Beberapa ulama lain juga berpendapat bahwa memakmurkan malam nisfu sya’ban dengan beribadah adalah bukan perkara yang dilarang oleh agama, namun mereka berpendapat bahwa memakmurkannya di rumah (bukan secara berkelompok di masjid) adalah lebih baik. Di antara mereka adalah Al Imam Al Auza’i (salah seorang pemimpin ulama di Negeri Syam).

Diriwayatkan oleh Al Imam Al Baihaki dalam As Sunan Al Kubro bahwa Al Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘anhu telah berkata, “Telah sampai kepada kami bahwa do’a dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala pada 5 malam, yaitu malam jumat, malam Idul Fitri, malam Idul Adha, malam pertama bulan rajab, dan malam nisfu sya’ban.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Amiril Mukminin Umar Ibnu ‘Aziz menuliskan surat kepada wakil atau gubernurnya di Basrah, “Hendaknya engkau memperhatikan 4 malam dalam 1 tahun, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala memcurahkan rahmat-Nya yang sangat besar pada 4 malam tersebut, yaitu malam pertama pada bulan suci rajab, malam nisfu sya’ban, malam Idul Fitri, dan malam Idul Adha.

Apa yang kami paparkan di atas adalah beberapa kutipan yang dinyatakan oleh para ulama besar, walaupun di sana juga banyak ulama lain yang tidak menyetujui tentang malam nisfu sya’ban. Namun ketidaksetujuan mereka adalah ijtihad mereka, sebab memakmurkan malam nisfu sya’ban dengan ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah permasalahan ijtihad (masalah far’iyah/masalah cabang, bukan masalah akidah).

Ini adalah masalah yang luas, yang memerlukan kelapangan dada. Bagi yang menyetujuinya silahkan dan bagi yang tidak menyetujuinyapun silahkan. Perkara ijtihad disebutkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wasallam, “Orang yang berijtihad, apabila dia benar dalam ijtihadnya maka mendapatkan 2 pahala dari Allah Subhanahu wa ta’ala, dan apabila dia salah dalam ijtihadnya maka mendapatkan 1 pahala dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

Di antara hadits yang shahih ialah yang diriwayatkan oleh Al Imam At Tabrani, sebagaimana telah diriwayatkan dan dishahihkan  oleh Al Imam Ibnu Hibban dari Muadz bin Jabbal Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wasallam bersabda,

يطلع الله إلى جميع خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan perhatian-Nya kepada seluruh makhluk-Nya pada malam nisfu sya’ban. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang yang musyrik dan orang yang saling berdengki satu sama lain.” (bersambung)

sumber alhabibahmadnoveljindan.org