Sabtu , 21 April 2018

BOLEHKAH BELAJAR ILMU FIQIH HANYA LEWAT BUKU ?

Salah seorang santri sedang membaca kitab kuning. foto darulanshar.wordpress.com
Salah seorang santri sedang membaca kitab kuning. foto darulanshar.wordpress.com

 

PANGGILAN dari SURAU – Semua orang sepakat bahwa buku adalah gudangnya ilmu. Sampai ada mahfuzhat dalam bahasa Arab yang mengungkapkan betapa bergunanya suatu buku.

خير جليس في الزمان الكتاب

Sebaik-baik teman duduk sepanjang zaman adalah buku.

Dan ilmu fiqih yang luas itu tersimpan di dalam jutaan jilid buku. Maka kalau mau belajar ilmu fiqih tidak bisa tidak, harus punya buku dan membacanya. Kita bersyukur bahwa salah satu wujud tingginya peradaban umat Islam di masa lalu adalah warisan buku-buku fiqih yang berjuta jilidnya.

Yang sudah dicetak dan dijual umum masih terlalu sedikit dibandingkan yang masih dalam bentuk manuskrip (makhthuthat). Sebagian kalangan ada yang memperkirakan bahwa yang sudah tercetak itu paling banyak baru 5% saja. Selebihnya masih tersimpan di museum atau perpustakaan di berbagai penjuru dunia.

Beberapa Kekeliruan Yang Harus Dihindari

Namun dibalik pentingnya sebuah buku, kita juga harus waspada dan cermat. Ketika kita merasa sudah cukup bisa menimba ilmu hanya lewat buku dan merasa tidak butuh penjelasan dari orang yang ahli di bidang itu, maka kita sudah mulai salah arah.

Jangan mentang-mentang buku itu tempat dituliskannya ilmu, lantas kita berpikir bahwa kita sudah tidak lagi butuh guru yang mengajar secara langsung. Sebab biar bagaimana pun, buku itu sendiri ditulis oleh guru juga. Dan apa yang disampaikan oleh seorang guru kepada muridnya secara langsung tentu akan jauh lebih akurat dan lebih mudah dipahami, ketimbang sekedar hanya membaca bukunya.

Baca Juga :   AKIBAT NGINJAK KAKI UNTUK RAPATKAN SHAF SHALAT, Tempeleng pun Melayang, Diadukan ke Polisi

Biasanya dalam keseharian kita, bila kita punya kesempatan untuk bertemu langsung dengan penulis sebuah buku yang pernah kita baca, maka kita pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Buat apa? Toh bukunya sudah kita baca, bukan?

Jawabannya sederhana saja, yaitu dengan bertemu langsung dengan penulis buku, maka kita bisa menggali lebih jauh hal-hal yang barangkali belum sempat dituliskan dalam buku itu. Atau kita bisa mengkonfirmasi informasi yang kita baca langsung kepada penulisnya.

1. Salah Paham

Kesalahan yang sering terjadi pada orang yang belajarnya hanya lewat baca buku adalah seringnya terjadi salah paham terhadap isi buku. Boleh jadi maksud penulis buku ke Utara tetapi dipahami oleh pembacanya malah ke Selatan. Tentu Utara itu bukan Selatan. Utara adalah lawan dari Selatan.

Maka kita butuh guru untuk menjelaskan apa-apa yang sekiranya bisa membuat kita salah paham terhadap apa yang kita baca dari sebuah buku.

2. Sama Sekali Tidak Paham

Kekeliruan kedua ini lebih parah dari kekeliruan pertama di atas, yaitu orang yang baca buku seringkali malah sama sekali tidak paham isi buku itu. Walaupun sudah dibolak-balik dari awal ke akhir dan dari akhir ke awal, tetap saja gagal paham.

Keadaan ini tentu saja mengerikan. Bagaimana tidak, ketika kita merasa sudah membaca suatu buku, ternyata kita sama sekali tidak paham apa isinya. Ujung-ujungnya buku itu hanya menjadi bantal untuk tidur saja.

3. Keliru Terjemahan……